Thursday, March 7, 2013

Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural”.


Pancasila Sebagai Solusi
Oleh : Darul Azis



Sejak 11 tahun yang lalu (Baca : Reformasi), bangsa Indonesia telah berkomitmen untuk semakin maju ke arah perbaikan-perbaikan sistem dalam kerangka membangun kehidupan berbangsa dan negara.  Namun masa transisi tersebut bukanlah suatu jalan mulus yang bisa dengan mudah dilalui, kesemuanya itu memerlukan penyesuaian dan adaptasi bangsa dalam menghadapi temuan persoalan-persoalan baru dalam perkembangannya. Adaptasi yang berkesinambungan itulah yang akhirnya menjadi tuntutan reformasi itu sendiri.
Reformasi, hakikatnya adalah perubahan yang berkesinambungan. Proses berkesinambungan ini harus mampu beradaptasi dengan tuntutan global, dengan demikian reformasi tidak dapat dipisahkan dengan komunitas Internasional sebagai organisasi besar di dunia ini. Adanya keterkaitan antara reformasi dan komunitas internasioal, globalisasi, dan produk internasional lainya kemudian memunculkan kekhawatiran berbagai pihak akan terancamnya identitas kebangsaan (nasional) yang akan tergerus dengan adanya globalisasi tersebut. Kekhawatiran ini memang wajar, bahkan sangatlah beralasan. Hal ini menandakan bahwa kepedulian kita terhadap identitas nasional masih sangat tinggi, selain itu begitu besarnya pengaruh globalisasi terhadap nilai-nilai lokal memang sangat besar dan memerlukan upaya preventif serta konstruktif sebagai upaya melindungi khasanah identitas kebangsaan yang kita miliki saat ini.

Melanjutkan Pembangunan Karakter Bangsa 

Ketika bangsa ini mulai tertatih membangun diri menjadi bangsa yang besar dan disegani dunia Internasional setelah sekian lama berada dalam masa kolonial, Bung Karno dalam pidato kenegaraannya menekankan adanya Pembangunan Karakter Bangsa (Nation Character Building). “Sesungguhnya, bahwa membangun suatu negara, membantu ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa. Bukankah demikian? Tentu saja keahlian perlu, namun keahlian saja tanpa dilandasi jiwa yang besar, tidak akan mencapai tujuannya. Ini adalah sebab mutlak diperlukannya Nation and Character Building. (dikutip dari salah satu rekaman pidato Bung Karno pada HUT  RI tahun 1966).
     Dari kutipan pidato tersebut diatas, Bung Karno, MPR-RI dan founding father lainnya telah mampu menangkap fenomena masa depan sebagai implikasi dari masuknya Indonesia dalam organisasi Internasional waktu itu, yakni PBB pada tahun  1950. Perlu digarisbawahi bahwa masuknya Indonesia kedalam PBB merupakan salah satu upaya pembangunan kehidupan bernegara terutama dibidang ekonomi, politik, hukum, HAM, pendidikan dan sosial budaya. Namun pada akhirnya, bukan hanya hal-hal tersebut sajalah yang masuk dan menjadi bagian dari kecenderungan bangsa, faham-faham yang ada dalam organisasi internasional tersebut akhirnya secara perlahan masuk dan menimbulkan keresahan bangsa sehingga memerlukan adanya pembangunan karakter bangsa secara masif.
     Urgensi pembangunan karakter bangsa tidak hanya sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi arus global yang pada waktu itu kian disadari para pendiri republik ini. Namun lebih daripada itu, pembangunan karakter bangsa merupakan tonggak sejarah komitmen bahwa sejatinya untuk menjadi negara yang berdaulat dan maju, diperlukan karakter bangsa yang khas dan unik sehingga dapat dijadikan dasar pembangunan bangsa. Karakter bangsa yang khas dan unik tersebut telah termaktub dalam Pancasila sebagai falsafah bangsa, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter bangsa adalah merupakan implementasi nyata nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila tersebut. Namun perlu dicatat pula, bahwa proses implementasi ini memerlukan suatu batasan sebagai acuan dasar dalam melangkah, sehingga pelaksanaannya tidak bertentangan dengan apa yang telah dicita-citakan bangsa ini sebelum dan sesudah merdeka. Proses implementasi inilah yang akhirnya tidak diperkenankan bertentangan dengan UUD 1945 sebagai sumber hukum serta dengan memperhatikan nilai-nilai kebhinnikaan yang ada di Indonesia  agar sesuai dengan nilai kesatuan dan persatuan yang dijunjung tinggi oleh negara ini. Singkatnya, negeri ini telah mempunyai 4 pilar yang dapat dijadikan identitas bangsa dan dapat digunakan sebagai “bekal” menghadapi gempuran arus global yang memang tidak dapat kita hindarkan sebagai bagian dari masyarakat Internasional.
 
Tantangan Arus Global di  Era Reformasi
 
     Indonesia telah mengalami beberapa tonggak sejarah yang dapat dijadikan catatan revitalisasi identitas nasional, yakni pada tahun 1945 yang merupakan awal upaya perubahan dan pembaharuan dalam dunia yang ditandai era dekolonialisasi. Di era ini Indonesia mulai bangkit sebagai negara yang berdaulat dimata Internasional sebagai kelanjutan dari perjuangan merebut kemerdekaan hingga akhirnya Bung Karno memimpin negeri ini dengan faham-faham yang terkadang berseberangan dengan kepentingan Internasional. Kemudian pada tahun 1966, bangsa ini kembali menata kembali kehidupan bernegara dalam suasana era perang dingin. Perang dingin disini merupakan refleksi pemerintahan yang dianggap otoriter oleh penguasa waktu itu. Terakhir adalah tahun 1998, bangsa ini merekontruksikan kembali negara ditengah arus globalisasi yang secara jelas membawa nilai-nilai universal dalam kehidupan internasional, demokratisasi dilakukan secara global dan praktis menimbulkan tantangan serta permasalahan baru bagi bangsa ini.
     Sejak tonggak sejarah tahun 1998 inilah Indonesia kembali menyadari  bahwa dalam globalisasi terdapat kepentingan-kepentingan yang tidak sesuai dengan nilai dan jati diri bangsa serta invisible hands yang ternyata ikut mengatur dan mengintervensi proses pembangunan bangsa. Ketidak sesuaian ini perlu kita sikapi secara kritis, nilai-nilai global yang masuk secara bebas inilah yang kemudian memunculkan  faham kepribadian ganda suatu bangsa (multikulturalisme). Jika hal tersebut dibiarkan, hal yang paling ditakutkan adalah tergerusnya nilai-nilai lokal dan jati diri bangsa Indonesia sebagai akibat dari kepungan nilai-nilai global yang tidak mampu kita saring secara maksimal, karena pada dasarnya dinamika nilai-nilai global cenderung lebih cepat dibandingkan dengan nilai-nilai lokal.
Tantangan yang semakin besar di abad 21 ini menuntut kita untuk senantiasa memegang teguh nilai-nilai fundamental agar dapat dijadikan filter masuknya pengaruh globalisasi. Filter tersebut adalah Pancasila, yang tertuang didalamnya nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan dan Kerukunan, serta Keadilan Sosial. Sehingga tidak berlebihan jika kita terus-menerus berseru bahwa Pancasila adalah sebagai solusi permasalahan bangsa, Pancasila sebagai Ideology (way of life), perekat dan pemersatu bangsa, dan satu-satunya jati diri bangsa di era global ini.
Berbicara tentang globalisasi berarti berbicara pula tentang internasionalisasi, dan saat itu pula kita dituntut untuk berbicara tentang nasionalisme. Pada dasarnya Nasionalisme bangsa Indonesia bukanlah Chauvinisme dan bukan pula kebangsaan yang menyendiri. Bahkan, Bung Karno telah memberikan pengertian kepada kita bahwa sejatinya nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme yang menuju pada kekeluargaan bangsa-bangsa, perdamaian dan persatuan dunia. Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berpijak dalam buminya nasionalisme, tidak berakar dalam dunia nasionalisme. Sebaliknya, nasionalisme tidak akan hidup subur, jika berada dalam taman sarinya internasionalisme. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah, internasionalise itu sendiri tidak boleh dimaknai sebagai kosmopolitisme, karena pandangan ini tidak mengakui identitas kebangsaan.
Hidup di dalam globalisasi saat ini sarat akan hukum dan kaidah-kaidah kapitalisme, pasar bebas, dan pasar terbuka. Hal tersebut harus kita sikapi secara lebih positif dengan semaksimal mungkin diabdikan untuk kepentingan, kesejahteraan dan keadilan sosial. Dengan berpijak pada pola hubungan nasionalisme dan internasionalisme yang korelatif, maka hendaknya globalisasi tidak lagi hanya dipandang sebagai ancaman dan keburukan yang mengancam identitas kebangsaan, namun seyogyanya kita mampu melihat sisi lain dan kebaikan-kebaikan dan keuntungan yang dapat kita ambil. Hanya saja, untuk mengimplementasikan itu semua, kita perlu berpegang teguh pada ideologi bangsa beserta nilai-nilai luhur lainnya.
Post a Comment